Pengalaman dan pemikiran mantan Kepala Polda Sumut Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Oegroseno untuk memperbaiki citra polisi dituangkan dalam sebuah buku. Buku berjudul “Oegroseno: Pengabdian Polisi tak Kenal Lelah” tersebut ditulis dua dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Yulhasni dan Arifin Saleh Siregar.
Buku itu diluncurkan di Auditorium UMSU Jalan Mukthar Basri,kemarin. Yulhasni menuturkan, buku itu menggambarkan sosok Oegroseno dan pemikirannya dalam usaha memperbaiki citra polisi di Indonesia, terutama saat menjabat Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut).
“Pak Oegroseno membawa perubahan pada polisi, untuk humanis kepada masyarakat.” ”Untuk itu, bagi saya dan Arifin Saleh Siregar merasa perlu mengaplikasikannya dalam bentuk sebuah buku,”ujar Yulhasni. Jika tidak dijadikan tulisan, imbuh dia,konsep pemikiran lulusan Akabri angkatan 1978 itu akan sirna dan pencitraan masyarakat terhadap polisi tidak akan berubah.
‘’Pemikiran beliau kadang melampaui dari yang kita pikirkan,’’ sebutnya. Dengan terbitnya buku tersebut, dia berharap polisi lebih terpacu untuk memperbaiki citranya,sehingga polisi benarbenar menjadi pelindung dan pengayom masyarakat.“Saya harap Pak Oegroseno tidak berhenti sampai di sini dan terus berbuat lebih baik lagi ke depannya,” pungkasnya.
Dalam buku tersebut, tertulis rekaman program,pemikiran dan pengalaman Oegroseno. Buku setebal 157 halaman tersebut memuat empat bagian, yakni “Polisi di Mata Masyarakat: Stigma Polisi yang Sulit Dihapus”, “Membumikan Citra Polisi Humanis”, “Oegroseno Berbakti tidak Harus Jadi (Ka) Polri”,dan “Mereka Bicara”.
Oegroseno dalam kata sambutannya mengatakan, buku tentang konsep pemikiran dan pengalaman dirinya semasa menjabat Kepala Polda Sumut tak pernah dia bayangkan. Sebagai pimpinan,dia ingin perubahan agar institusi Polri menjadi lebih baik lagi di mata masyarakat. Dalam hal ini, dia pun melontarkan moto “Jangan Ada Lagi Darah dan Air Mata di Kantor Polisi”.
“Karena saya merasa sedih,tidak bisa hilangkan budaya kekerasan. Makanya saya ciptakan moto itu,” ujar pria kelahiran 17 Februari 1956 ini. Namun, setelah Polda Sumut dan seluruh jajarannya menjadikan moto tersebut sebagai perbaikan citra Polri, pada 22 September 2010 Kantor Polsek Hamparan Perak diserang sekelompok orang bersenjata api.
Tiga petugas tewas dalam peristiwa tersebut.Kejadian ini merupakan rangkaian kasus besar sepanjang 2010, yaitu perampokan Bank CIMB Aksara Jalan Aksara Medan pada 18 Agustus 2010.Saat itu, seorang petugas Brimob tewas ditembak pelaku. Pengungkapan kedua kasus besar itu menjadi tanggung jawab Oegroseno sebagai Kepala Polda Sumut.
“Saya berdialog dengan Tuhan, saya ingin buat yang terbaik.Tetapi,semua terungkap berkat bantuan Tuhan dan waktu yang diperlukan untuk membongkar kasus itu hanya 1,5 bulan,”tutur Oegroseno. Pengungkapan pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Cabang Aksara dan penyerangan Kantor Polsek Hamparan Perak juga diulas dalam buku bersampul gambar Oegroseno tersebut.
Kedua pengalaman tersebut menjadi kisah perjalanan hidup tersendiri bagi Oegroseno. Peluncuran buku itu juga dihadiri Plt Gubsu Gatot Pudjonugroho, Rektor UMSU Agussani, Kabid Propam Polda Sumut Kombes Pol Edi Napitupulu, Kadansat Brimobdasu Polda Sumut Kombes Pol Verdianto BC,DirekturBimasPolda Sumut Kombes Pol Hery Subiansauri, advokat, akademisi/aktivis kampus,dan mahasiswa.
Sementara itu, Plt Gubsu Gatot Pudjonugroho menuturkan, terbitnya buku “Oegroseno: Pengabdian Polisi tak Kenal Lelah” tersebut dapat mengilhami pejabat untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat.“Mestinya seorang aparat dan pejabat harusnya memang begitu,bahwa problematika masyarakat kita harus cepat dan tidak mengenal waktu.
Masyarakat jadi merasa diayomi, memiliki,”ujarnya. Gatot menambahkan, peluncuran buku ini dapat memberi semangat dan teladan bagi anggota Polri, pejabat, dan masyarakat. Sebab, perbaikan ke arah yang lebih baik tentu menjadi hal utama yang harus terus dilakukan jajaran Polri. “Peluncuran buku ini memberi spirit bagi kita semua, bahwa bekerja itu dengan sepenuh hati, tidak akan mengenal lelah,”pungkasnya. Demikian catatan online blog Komsen-x yang berjudul Pengalaman dan pemikiran.
Harga Tiket Peswat Untuk Lebaran Naik 200 Persen
7 tahun yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar